indoagro.org-Bogor. Kegiatan pendampingan bagi peternak unggas melalui dukungan permodalan, penyediaan sarana produksi, pendampingan usaha, hingga perluasan akses pemasaran. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong kemandirian ekonomi para peternak, khususnya pelaku usaha skala kecil.

Salah seorang peternak Bebek Wek-Wek dan Entok di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Wandi, menyambut positif rencana tersebut. Menurutnya, dukungan dari koperasi sangat dibutuhkan karena peternak kecil masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan modal usaha dan tingginya biaya produksi.
“Saat ini tantangan terbesar kami adalah harga pakan yang terus naik. Kalau ada bantuan pembiayaan dan pendampingan dari koperasi, tentu sangat membantu kami meningkatkan populasi ternak,” ujar Wandi saat ditemui di kediamannya yang juga menjadi lokasi peternakan entok miliknya, Kamis (30/7/2026).

Wandi menjelaskan, permintaan daging entok terus menunjukkan tren peningkatan. Konsumen berasal dari pasar tradisional, rumah makan, hingga pelaku usaha kuliner. Dalam setiap masa panen, ia mampu menjual sekitar lima hingga sepuluh ekor entok, sementara permintaan biasanya meningkat menjelang hari besar keagamaan dan musim liburan.
Sebelum menekuni usaha peternakan entok, Wandi pernah menjalankan usaha ternak ayam kampung. Namun, usaha tersebut terhenti setelah dirinya menghadapi persoalan hukum yang, menurut pengakuannya, bermula dari pembelian ayam kampung yang belakangan diketahui diduga merupakan hasil tindak pidana pencurian.
Wandi mengaku sempat dimintai keterangan oleh pihak kepolisian di Polsek Jasinga. Ia menyatakan tidak mengetahui asal-usul ayam yang dibelinya dan merasa telah membeli ternak tersebut dengan itikad baik. Selain itu, Wandi juga mengklaim pernah diminta sejumlah uang agar proses hukum terhadap dirinya dihentikan namun setelah negoisasi dengan pihak polsek dia hanya bisa membayar 3 juta rupiah. Tentu saja Klaim tersebut merupakan keterangan sepihak dari Wandi dan belum memperoleh tanggapan maupun konfirmasi dari pihak kepolisian.
Peristiwa tersebut, menurut Wandi, menjadi alasan dirinya meninggalkan usaha ternak ayam kampung dan beralih ke budidaya entok. Dalam menjalankan usaha barunya, ia berharap memperoleh dukungan dari Koperasi Indo Agro agar skala usahanya dapat terus berkembang.

Menanggapi kebutuhan para peternak, Ketua Koperasi Indo Agro, Adhitiawarman, mengatakan pihaknya tengah menyusun program anggaran yang difokuskan pada penguatan sektor peternakan rakyat. Menurutnya, koperasi tidak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan.
Program yang tengah disiapkan meliputi bantuan permodalan dengan skema yang terjangkau, penyediaan pakan berkualitas melalui pola kemitraan, pendampingan teknis budidaya, serta pembukaan akses pemasaran agar hasil ternak memiliki nilai jual yang lebih kompetitif.
“Kami ingin koperasi hadir sebagai mitra strategis bagi peternak. Bukan hanya memberikan akses pembiayaan, tetapi juga memastikan peternak memperoleh pendampingan, teknologi, dan akses pasar sehingga usaha mereka dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Adhitiawarman.
Ia menambahkan, sektor peternakan unggas memiliki potensi besar dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Karena itu, Koperasi Indo Agro berkomitmen membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pertanian, agar peternak memperoleh dukungan yang lebih luas.
Bagi Wandi dan peternak lainnya, kehadiran Koperasi Indo Agro menjadi harapan baru untuk meningkatkan kapasitas usaha. Dukungan pembiayaan, pelatihan, serta akses pasar dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan memenuhi permintaan konsumen yang terus bertumbuh.
Melalui program tersebut, Koperasi Indo Agro berharap dapat memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis sektor peternakan. Sinergi antara koperasi, peternak, dan pemerintah diharapkan mampu menciptakan usaha budidaya unggas yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan.
Pewarta: Ridho